Indonesia Harus Serius Kembangkan Inovasi Teknologi

Delegasi Indonesia yang dipimpin Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung bertemu delegasi Korea Selatan (Korsel) di Seoul, Rabu (22/5). Tujuan utama kunjungan itu antara lain untuk mempelajari keberhasilan Korsel menjadi negara maju. Delegasi RI beranggotakan 16 pengusaha nasional dan ekonom, di antaranya Raden Pardede, Aviliani, Didik J Rachbini, Hermanto Siregar, James T Riady, Peter F Gontha, Teddy Rachmat, dan Chris Kanter. Shoeb K Zainuddin/JG SEOUL- Indonesia harus serius mengembangkan inovasi di bidang teknologi dan sains agar menjadi negara maju seperti Korea Selatan (Korsel). Kegagalan mengembangkan sektor ini bisa membuat Indonesia terus terperangkap sebagai negara berpendapatan menengah (middle income trap).

“Inovasi teknologi dan sains adalah satusatunya cara agar kita bisa berhasil menjadi negara maju,” kata Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung kepada Jakarta Globe, di Seoul, Korsel, Rabu (22/5).

Chairul memimpin delegasi Indonesia yang berjumlah 16 orang untuk mempelajari keberhasilan Korsel menjadi negara maju, termasuk bagaimana Negeri Ginseng itu berhasil lolos dari middle income trap.

Delegasi yang terdiri atas pengusaha nasional dan ekonom itu di antaranya Raden Pardede, Aviliani, Didik J Rachbini, Hermanto Siregar, James T Riady, Peter F Gontha, Teddy Rachmat, dan Chris Kanter. Kedatangan mereka disambut Dubes RI untuk Korsel John Prasetyo. Chairul juga akan menyampaikan surat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Presiden Korsel Park Geun-hye, Sabtu (25/5).

Menurut Chairul Tanjung, Korsel mampu bertransformasi dari negara berbasis pertanian menjadi negara industri, kemudian menjadi negara yang mumpuni di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bahkan, Korsel kini berkembang menjadi salah satu negara terdepan di bidang produkproduk elektronik dan industri berteknologi tinggi. Keberhasilan tersebut dicapai Korsel hanya dalam dua dekade. “Itu berkat komitmen yang kuat dari pemerintahnya dalam mengembangkan teknologi dan sains,” ujar Chairul.

Di sisi lain, kata Chairul Tanjung, Indonesia yang berharap bisa mengikuti jejak Korsel masih menjadi negara berpendapatan menengah dengan produk domestik bruto (PDB) sekitar US$ 1 triliun. Namun, saat konsumsi terus tumbuh, ada kekhawatiran di kalangan pemerintah dan pebisnis bahwa per usahaan-perusahaan Indonesia tidak cukup berinvestasi di bidang inovasi dan teknologi.

Jika hal ini terus dibiarkan, perekonomian Indonesia bisa terperangkap terus menjadi negara berpendapatan menengah yang hanya menarik investasi dari kalangan industri dan pabrikan segmen bawah. “Investasi seperti itu tidak akan mampu meningkatkan posisi Indonesia menjadi negara maju,” papar Chairul.

Menurut kalangan ekonom, sekitar 95% negara berpendapatan menengah terperangkap dalam apa yang disebut sebagai middle income trap. Indonesia bisa pula terjebak dalam perangkap tersebut jika tidak segera mengembangkan inovasi di bidang teknologi dan sains.

Selain berdiskusi, delegasi RI akan mengunjungi perusahaan-perusahaan ternama Korsel, seperti Samsung, Hana Bank, LG, dan Korea Telecom. Delegasi RI juga berencana mengunjungi Kota Sejong yang tengah dikembangkan menjadi pusat riset, pendidikan, dan indistri berteknologi tinggi.

Beberapa dekade silam, Korsel tercatat sebagai negara ‘kebanyakan’ yang masih disejajarkan dengan Indonesia. Namun, belakangan, perekonomian Korsel maju pesat. Saat ini, pendapatan per kapita Negara berpenduduk sekitar 50 juta jiwa itu mencapai US$ 32 ribu dengan angka kemiskinan absolut 2% dan angka pengangguran 31,1%. (lihat tabel)

Kontribusi ICT

Chairul Tanjung mengungkapkan, saat ini sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau information and communication technology (ICT) menyumbang 12% terhadap produk domestik bruto (PDB) Korsel senilai US$ 1,2 triliun. Sedangkan kontribusi TIK di Indonesia hanya 0,5% terhadap PDB.

“TIK adalah konvergensi informasi, komunikasi, dan teknologi. Sebagai sebuah bangsa, kita harus berinvestasi lebih banyak di bidang teknologi dan jaringan telekomunikasi 4G,” ujar dia.

Dia mencontohkan, Korsel telah menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi secara gratis untuk segenap rakyatnya serta perusahaan- perusahaan, sehingga membantu meningkatkan perdagangan dan mendorong lahirnya industri-industri baru. Sebaliknya, Indonesia masih menjadi negara dengan biaya koneksi internet termahal di dunia. Dengan biaya koneksi internet yang mahal, rata-rata orang Indonesia, termasuk para petani, semakin terpinggirkan dan tidak punya akses kepada perekonomian global. “Pola pikir pemerintah harus berubah sepenuhnya kalau kita ingin menghindari middle income trap,” tandas Chairul.

Perusahaan-perusahaan Korsel saat ini aktif mengembangkan pasar produk TIK. Di sisi lain, Indonesia memiliki daya tarik yang alami. “Hal itu bisa menjadi peluang terjalinnya kemitraan saling menguntungkan bagi kedua pihak,” ujar dia.

Chairul menambahkan, berdasarkan riset, setiap 10% penambahan penetrasi internet bisa meningkatkan pertumbuhan PDB sebesar 1,4%. Sedangkan setiap penggandaan kecepatan internet bisa menambah 1% PDB.

Agar Indonesia bisa meningkatkan status nilai tambah ekonominya, menurut Chairul Tanjung, pemerintah perlu menciptakan regulasi yang tepat dan membuka pasar bagi produk telekomunikasi, pelaku telekomunikasi, dan broadband baru. Apalagi saat ini pasar telekomunikasi nasional masih didominasi pemain generasi kedua dan ketiga, yang menghalangi operator 4G untuk masuk ke pasar. (JG)


  Investor  

0 komentar:

Posting Komentar