Produk mainan dan elektronik lokal mampu kuasai pasar Amerika

Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data terbaru mengenai impor Indonesia yang terus melonjak. Impor Indonesia pada September 2013 mencapai USD 15,47 miliar. Angka ini naik 18,86 persen dibandingkan Agustus 2013.

Kepala BPS, Suryamin, mengatakan untuk mengimbangi besarnya impor pemerintah harus giat meningkatkan ekspor. Banyak produk Indonesia yang berpotensi menguasai pasar dunia seperti Amerika dan India.

"Industri mainan yang banyak diproduksi Indonesia sudah banyak yang pesan. Pabriknya ada di Bekasi, Bandung dan tidak hanya Amerika yang pesan," kata Suryamin di Gedung BPS, Jakarta, Jumat (1/11).

Selain mainan, hasil elektronik atau IT Indoensia juga disebut sudah mengungguli negara lain. Pemerintah bisa memanfaatkan ini dengan menyasar negara dengan penduduk yang besar.

"Kita juga unggul dan sudah ada yang pesan luar negeri. High tech seperti printer, komputer, mainan cukup besar potensi bisa menghasilkan output," terangnya.

Terakhir, produk Indonesia yang sangat berpotensi menguasai negara lain adalah garmen. Garmen Indonesia sudah menembus pasar Amerika yang penduduknya disebut nomor tiga terbesar di dunia. Selain itu alas kaki juga memberikan signal positif dari Amerika.

Namun demikian yang harus dilakukan pemerintah adalah sinkronisasi antara pengusaha besar dengan kecil. Saat ini pengusaha besar Indonesia masih sedikit dan didominasi oleh pengusaha rumah tangga.

Harmonisasi antar keduanya dapat menciptakan efek simbiosis mutualisme. Di mana pengusaha kecil dapat terbantu dari aspek akses dan dana pengusaha besar.

"Jumlahnya usaha semuanya 3,2 juta usaha industri kecil sedang dan besar. Dari jumlah itu hanya 27.000 yang pengusaha besar. Kecil kecil banyak," tutupnya. (mdk/bim)


  Merdeka  

Kerjasama Militer RI dengan Berbagai Negara: Tank Sampai Jet Tempur

 RI memproduksi tank bersama Turki, dan jet tempur bersama Korsel. 

http://www.armyrecognition.com/images/stories/europe/turkey/main_battle_tank/altay_tank/pictures/altay_project_new_main_battle_tank_Turkey_Turkish_army_001.jpg
MBT Altay Turki
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Ulang Tahun TNI ke-68 di Skadron Halim Perdanakusuma Jakarta, 5 Oktober 2013, menjanjikan kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) RI akan meningkat signifikan dalam waktu dekat hingga akhir tahun 2014. Untuk memodernisasi alutsista sekaligus meningkatkan kualitas sistem pertahanan RI, pemerintah telah menjalin kerjasama dengan industri pertahanan di dalam dan luar negeri.

Ucapan Presiden SBY itu bukan omong-kosong. Sejumlah negara pada akhir Oktober ini membeberkan kerjasama pertahanannya dengan Indonesia. RI aktif menggandeng berbagai negara untuk memperkuat militernya. Mulai negara-negara di kawasan Asia sampai benua Eropa, semua digaet RI dengan rakus demi transfer teknologi pertahanan.

Anggaran modernisasi dan perawatan alutsista TNI sampai akhir tahun 2014 tercatat Rp99 triliun, dan Kementerian Pertahanan masih membutuhkan tambahan anggaran Rp57 triliun. “Kami prioritaskan mencari alutsista bergerak seperti pesawat temput dan tank. Sementara alutsista yang tak bergerak seperti radar,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro

 Tank Bersama Turki-RI 

Selasa 29 Oktober 2013, Duta Besar Turki untuk Indonesia Zekeriya Akcam mengungkapkan negaranya telah mengikat nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) untuk bekerjasama membuat tank dengan Indonesia. MoU itu diteken di sela kegiatan Pameran Industri Pertahanan Internasional (IDEF) ke-11 di Istanbul, Turki, Mei 2013.

Produksi tank bersama Indonesia dan Turki tak digarap terburu-buru. Saat ini pemerintah kedua negara lebih dulu mendesain satu prototipe tank. “Setelah desain tank selesai dibuat, maka akan diproduksi massal dan digunakan bagi militer kedua negara,” ujar Zekeriya kepada VIVAnews. Desain tank RI-Turki ini akan diumumkan ke publik internasional setelah kedua negara selesai menggelar pemilu yang sama-sama berlangsung Juli 2014.

Di pihak Indonesia, produksi tank RI-Turki akan melibatkan dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Pindad dan PT Len Industri. PT Len merupakan mitra perusahaan Aselsan asal Turki yang sudah berpengalaman memproduksi peralatan komunikasi militer taktis dan sistem pertahanan elektronik untuk Angkatan Bersenjata Turki.

Sementara dari pihak Turki, proyek tank bersama ini akan ditangani oleh kontraktor pertahanan Turki, FNSS Defense System, yang kerap memproduksi roda kendaraan tempur lapis baja dan senjata untuk militer Turki dan sekutunya. Dari segi teknologi, FNSS jelas lebih maju dari PT Pindad. Ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk menerima transfer teknologi dari Turki.

Jika Indonesia sukses memproduksi tank Anoa yang diklaim gesit mendekati sasaran, Turki berhasil membuat tank tempur utama bernama Altay yang berbobot 65 ton dan dipersenjatai meriam kaliber 120 mm dan senapan mesin kaliber 12,67 mm. Seperti dilansir www.artileri.org, tank Altay mampu melaju dengan kecepatan 70 km per jam di jalan mulus. Belum lama ini, Turki juga meluncurkan kendaraan lapis baja intai baru yang diberi nama Kaplan atau Harimau.

Soal tank, PT Pindad juga bekerjasama dengan Belarusia untuk mengembangkan tank. Kerjasama industri pertahanan adalah salah satu poin dalam nota kesepahaman RI-Belarusia yang ditandatangani dalam kunjungan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko ke Istana Negara, Jakarta, Maret 2013. Indonesia dan Belarusia juga menjalin kerjasama dalam bidang teknologi informasi dan nanoteknologi.

 Radar Ceko 

Bukan hanya Turki dan Belarusia yang tertarik menjalin kerjasama pertahanan dengan RI, tapi juga Republik Ceko. Ceko kini sedang menjajaki kerjasama dengan militer RI terkait pertahanan radar. Ceko dikenal punya catatan yang baik soal teknologi radar, terutama radar pasif ERA Ceko.

"Ada beberapa perusahaan Ceko yang menawarkan teknologi pertahanan kepada militer Indonesia. Salah satu teknologi yang kami coba jual yakni radar pasif yang dapat digunakan untuk memantau wilayah udara. Kami juga memiliki radar untuk menara pemantau udara (Air Traffic Controller),” kata Duta Besar Republik Ceko untuk Indonesia Thomas Smetanka kepada VIVAnews, Senin 28 Oktober 2013.

Antusiasme Ceko menawarkan teknologi radarnya kepada Indonesia sudah dimulai ketika Presiden Republik Ceko Vaclav Klaus berkunjung ke Indonesia Juli 2012. Indonesia sendiri enam-tujuh tahun lalu pernah menjajaki penggunaan radar pasif Ceko untuk memperkuat pertahanan udaranya. Ketika itu TNI Angkatan Udara datang langsung ke Ceko.

Namun saat itu TNI belum memutuskan untuk menggunakan radar pasif Ceko karena radar tersebut masih harus diintegrasikan dengan sistem radar yang sudah ada di Indonesia. Kesulitan mengintegrasikan radar baru dan radar lama juga terjadi ketika Indonesia menggabungkan sistem radar buatan Inggris dan Prancis.

Selain menawarkan radarnya, Ceko juga berharap dalam menjalin kerjasama pembelian senjata ringan dengan Indonesia. “Tapi saya tidak bisa memaparkan hal tersebut secara spesifik karena masih dalam tahap penjajakan,” kata Dubes Ceko Smetanka.

 Jet Tempur Korea-RI 


Proyek pesawat tempur Indonesia-Korea Selatan yang dimulai tahun lalu, ditargetkan selesai tahun 2020 meski ada kendala dana. Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin menekankan pentingnya keberlanjutan produksi jet tempur bersama RI-Korsel itu, siapapun yang terpilih menjadi Presiden RI pada Pemilu 2014.

“Program pesawat tempur KFX/IFX (Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment) adalah program nasional demi kepentingan bangsa dan negara. Kita harus mewujudkannya demi kemandirian bangsa membangun kekuatan pertahanannya,” kata Sjafrie. Tekad itu tak mengherankan karena bila proyek ini berhasil, maka KFX/IFX akan menjadi pesawat tempur pertama yang dibuat Indonesia.

Proyek tersebut kini memasuki tahap kedua, yakni pengembangan pesawat atau engineering manufacturing development. PT Dirgantara Indonesia menyiapkan 30 item dari 72 teknologi dalam pesawat itu. Untuk pengerjaan pesawat dengan skema joint production ini, Indonesia telah mengirimkan 40 orang teknisi dan insinyurnya ke Korsel pada pertengahan tahun 2012.

Pengembangan teknologi jet tempur KFX/IFX akan dilakukan hingga tahun 2020, dan dana yang dibutuhkan untuk memproduksi pesawat ini mencapai US$8 miliar, di mana Indonesia mendapat porsi anggaran sebanyak US$1,6 miliar.

Apapun, ambisi RI dan Korsel untuk memiliki pesawat tempur buatan sendiri masih terganjal dana. Dalam pertemuan antara Ketua Parlemen Korsel Ahn Hong-joon dan Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung, Mei 2013, terungkap bahwa pemerintah Korsel kesulitan mencari dana untuk proyek mahal tersebut. Namun Hong-joon meyakinkan, proyek KFX/IFX tak akan terhenti.

Direktur Utama PT DI Budi Santoso mengatakan, jet tempur Korsel-RI ini nantinya akan lebih canggih dari F-16 buatan Amerika Serikat. “Kalau F-16 itu generasi keempat, F-35 generasi kelima, KFX/IFX di tengah-tengahnya. Sukhoi buatan Rusia masih generasi empat,” kata Budi.

Untuk diketahui, F-16 dan F-35 merupakan pesawat tempur buatan Amerika Serikat, namun diproduksi oleh perusahaan yang berbeda. F-16 dikeluarkan oleh General Dynamics, sedangkan F-35 dikembangkan oleh Lockheed Martin.

KFX/IFX buatan RI-Korsel nantinya akan diproduksi sebanyak 250 unit, dan Indonesia mendapat bagian 20 unit. Satu unit pesawat tempur ini nantinya dihargai sekitar US$70-80 juta.

Masih banyak negara-negara lain yang berminat menjalin kerjasama dalam industri pertahanan dengan Indonesia, misalnya Ukraina. Komisi I DPR RI yang membidangi pertahanan, intelijen, dan luar negeri telah berkunjung langsung ke Ukraina, April 2013. Ukraina merupakan salah satu pusat industri militer di masa Uni Soviet masih berdiri.

Di Ukraina, DPR antara lain mengunjungi industri lapis baja, radio, roket jarak jauh dan luar angkasa, penerbangan, serta perkapalan. “Ukraina adalah negara produsen peluru kendali terbesar ketiga di dunia. Indonesia menginginkan pola kerjasama transfer teknologi dan produksi bersama,” kata anggota Komisi I Husnan Bey Fananie.

Namun kerjasama pertahanan RI-Ukraina sejauh ini belum terealisasi karena belum terbentuk komisi gabungan antara kedua negara.(eh)


  Vivanews 

Cara Membikin Animasi

http://images.detik.com/content/2013/10/30/1036/175035_meraihmimpi.jpgJakarta - Di tengah menggeliatnya industri animasi di tanah air, para animator Indonesia pun berjaya di manca negara. Atas bantuan mereka, lahirlah film-film besar yang sukses di pasar.

Pertanyaannya, sulitkah membuat film animasi? Apa saja yang dibutuhkan untuk membuat film animasi? Kalau Anda termasuk yang tertarik atau berencana membuat film animasi, bisa menyimak langkah-langkah berikut ini:


(DES/DES)


  detik  

Ingin Belajar Animasi, Di Sini Bisa

http://images.detik.com/content/2013/10/30/1036/142403_andresurya.jpg
Andre Surya (Foto maricari.com)
Jakarta - Industri animasi Indonesia terus berkembang. Tidak hanya studio yang bermunculan, kini pun sudah ada sekolah khusus yang mengajarkan teknik-teknik animasi.

Contohnya adalah Enspire School of Digital Art atau dikenal dengan sebutan ESDA (www.esda.co.id). Pendirinya adalah Andre Surya, yang juga pemilik Enspire Studio (www.enspirestudio.com). ESDA berlokasi di sebuah apartemen di Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Andre adalah digital artist yang sudah malang melintang di industri film Hollywood. Beberapa film beken yang digarapnya antara lain Iron Man, Iron Man 2, Transformers: Revenge of the Fallen, Star Trek, Terminator: Salvation, Indiana Jones and the Kingdom of Crystal Skull, Surrogates, The Last Airbender, dan Rango.

Tak heran nama Andre membuat sekolah yang baru berdiri selama empat bulan itu langsung ramai peminat. “Sekarang siswa kami sudah ada lebih dari 65. Kami berawal dari nol dan tadinya hanya ada satu kelas. Sekarang kami sudah akan membuka kelas kedua,” kata Andre, di Jakarta kemarin

Andri bilang, secara umum pengajaran di ESDA terbagi tiga, yaitu 3D fundamental course, 3D animation course, dan 2D course. Masing-masing terdiri dari tingkatan dasar (basic), menengah (intermediate), dan ahli (advance).

“Kebanyakan siswa kami adalah anak-anak SD sampai tingkat SMA. Namun ada pula mahasiswa dan para profesional, biasanya mereka sudah di tingkat intermediate,” ucap Andre.

Biaya yang dikenakan di ESDA adalah Rp 2,7 juta per tiga bulan. Periode tersebut dibagi menjadi 12 kali pertemuan, masing-masing berdurasi tiga jam.

Minat para siswa, lanjut Andre, sangat tinggi. Mereka sangat menyukai kegiatan ini sehingga bisa cepat menguasai teknik-teknik animasi. “Anak kelas 4 SD dalam satu bulan sudah bisa memakai pen tablet (perangkat lunak untuk menggambar di komputer),” ujarnya.

Menurut Andre, ESDA memang bertujuan untuk mengenalkan animasi dan digital art sejak dini. “Indonesia adalah market yang besar, dan ini sangat cocok untuk perkembangan industri animasi. Kami siap men-support dari sisi sumber daya manusia,” tuturnya.

Sumber daya manusia yang profesional untuk industri animasi Indonesia memang masih sedikit. Padahal talenta orang Indonesia luar biasa, tetapi banyak yang bekerja di luar negeri.

Andre menilai saat ini industri animasi di Indonesia mulai berkembang, meski masih kalah dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura. Ke depan, Indonesia perlu memiliki film animasi sendiri yang bisa menjadi ciri khas seperti Malaysia dengan kisah Upin dan Ipin.

“Animasi itu bukan sekedar industri, tetapi juga membawa budaya. Semua orang sudah tahu bahwa Batman atau Spider-Man adalah Amerika Serikat. Kita perlu yang seperti itu,” tegas Andre.


  detik  

Sepak Terjang Studio Animasi Lokal

http://images.detik.com/content/2013/10/30/1036/115634_papiru.jpgJakarta - Industri animasi di Indonesia bisa dikatakan mulai berkembang dan tengah merintis jalan kejayaan. Ini terlihat dari mulai menjamurnya studio-studio animasi di berbagai kota di Indonesia.

Sinergy Animation adalah salah satunya. Studio yang berdomisili di Jakarta Selatan ini berdiri sekitar empat tahun lalu.

Salah satu pendiri Sinergy Animation adalah Benny Kurniawan. Dia mulai menggeluti dunia animasi sejak 2004 dan bisnis ini berawal dari hobi.

"Saya suka animasi karena bisa menjadi wadah untuk menuangkan imajinasi. Saat pekerjaan selesai, ada kepuasan tersendiri," katanya di Jakarta kemarin.

Kebanyakan proyek yang dikerjakan Sinergy Animation adalah iklan televisi. Dalam sebulan, mereka menerima rata-rata 3-4 proyek. Namun untuk fee yang diterima dalam sebuah proyek, Benny masih malu-malu menyebutkannya. "Itu rahasia perusahaan," ujarnya.

Proyek yang diterima Sinergy Animation tidak hanya datang dari dalam negeri. Klien luar negeri seperti dari Malaysia kerap kali menggunakan jasa mereka.

Studio animasi lainnya yang juga berbasis di Jakarta adalah Papiru Studio. Sedikit berbeda dengan Sinergy Animation, Papiru Studio lebih berkonstrasi pada pembuatan grafis untuk game-game di ponsel cerdas.

"Dalam sebulan, kami bisa menerima 4-5 project. Fee untuk satu proyek berkisar antara Rp 3-10 juta," kata Gunawan Leman, salah satu pemilik Papiru Studio.

Gunawan memang sudah lama menyukai dunia animasi. Kesukaan itu pula yang membuatnya memilih jurusan animasi kala menuntut ilmu di salah satu universitas swasta di Jakarta.

Setelah bekerja di beberapa studio animasi, Gunawan dan teman-temannya akhirnya membuat studio sendiri. Lahirlah Papiru Studio, yang masih berumur kurang lebih setahun.

Benny menilai animasi merupakan bidang yang bisa dipelajari sehingga semua orang bisa menguasainya. Namun dibutuhkan minat dan komitmen tinggi untuk menggeluti bidang ini.

"Harus enjoy, dan punya passion dalam bekerja. Kalau punya dua hal ini, semua orang mampu menjadi animator," kata Benny.

Sedangkan Gunawan berpendapat akses untuk menjadi animator saat ini lebih mudah karena sudah ada jurusan khusus. "Sudah banyak kampus yang membuka jurusan animasi. Ini membuat potensi industri animasi di Indonesia semakin besar," tuturnya.

Meski punya potensi besar, industri animasi di Indonesia memiliki tantangan. Benny menyebutkan salah satu tantangannya adalah masih sedikit investor yang berminat untuk memodali produksi animasi berbiaya tinggi.

"Akhirnya order yang masuk mungkin baru sebatas iklan di televisi komersial, belum untuk pembuatan serial atau film. Mungkin ini juga yang membuat banyak animator kita akhirnya menerima project dari luar negeri, yang industri animasinya lebih berkembang," papar Benny.

Padahal, industri animasi bisa mendatangkan keuntungan yang besar. "Di luar negeri, satu film animasi bisa mendatangkan profit besar. Selama film itu punya konsep dan strategi bisnis yang bagus, Indonesia pun bisa karena market kita luas sekali," kata Benny.


  detik  

Animasi, Berkembang Tapi Belum Kelas Wahid

http://images.detik.com/content/2013/10/30/1036/095758_wallpaper_nusol_03.jpg
Game Nusantara Online
Jakarta - Anda pasti tahu film Iron Man. Ternyata di balik film itu ada anak Indonesia yang terlibat. Andre Surya namanya.

Andre adalah seorang digital artist yang sebelumnya bekerja di Lucasfilm. Selain Iron Man, dia pernah menggarap Iron Man Kingdom of Crystal Skull, Surrogates, The Last Airbender, dan Rango.

Kini Andre melihat peluang di tengah industri animasi yang sedang berkembang. Dia mendirikan sekolah khusus mengajarkan teknik-teknik animasi di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Menurut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 06 Tahun 2009, animasi termasuk ke dalam 15 jenis industri kreatif. Potensinya, menurut Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sangat besar.

Pendapatan industri kreatif tahun ini diperkirakan tumbuh 10 persen atau mencapai Rp 600 triliun. Kalau dihitung-hitung, tahun ini industri kreatif menyumbang tujuh persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Ke depan, industri ini bisa menjadi penopang ekonomi Indonesia dan tidak perlu lagi bergantung pada sumber daya alam. “Saya melihat kreativitas sebagai harapan masa depan kita. Ini sangat menjanjikan dan berkelanjutan," kata Mari, di Jakarta, baru-baru ini.

Animasi dapat diartikan sebagai bentuk karya seni untuk menciptakan gambar yang bergerak. Jika dulu animasi hanya sebatas dua dimensi, kini animasi sudah dibuat dengan teknik tiga dimensi sehingga menciptakan rangkaian gambar yang terlihat sangat nyata.

Produksi animasi Indonesia sebetulnya sudah dimulai pada 1970-an. Ketika itu, lahir studio animasi bernama Anima Indah. Namun sayang, studio ini tidak sempat membuat film dan lebih berkonsentrasi pada produksi iklan.

Industri animasi di Indonesia mulai berkembang pada 1980-an. Si Huma adalah serial animasi yang cukup digandrungi anak-anak kala itu. Memasuki era 1990-an, semakin banyak produksi animasi yang diciptakan. Salah satunya adalah Satria Nusantara.

Pada periode 1990-an pula sejumlah animator Indonesia mulai kondang di mancanegara. Beberapa di antaranya ikut menggarap animasi beken seperti Doraemon.

Kini berbagai studio animasi bermunculan dengan karya-karya besar. Seperti Janus: Prajurit Terakhir, yang telah menghiasi layar bioskop di nusantara.

Meskipun industri animasi di Indonesia sedang berkembang, Benny Kurniawan, pendiri Sinergy Studio, menilai saat ini belum ada produksi yang termasuk kelas wahid seperti di Amerika Serikat atau Jepang. Bahkan negara tetangga seperti Malaysia sudah punya Upin & Ipin yang gaungnya sampai di mana-mana.

“Indonesia memiliki banyak animator andal, tetapi sumber daya manusia yang ada belum termaksimalkan. Resource yang ada perlu bekerjasama dan menciptakan produksi yang mendunia,” kata Benny.


  detik  

Indonesia dan Turki Akan Buat Tank Bersama

Prototipe tank akan diungkap usai pemilu kedua negara pada Juli 2014. 


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9aTOseq4b4fX9i3IzqbGERL8wwnneE4hKbakm2A_iB8nYzASSuUCTC3ZV-tyPUS3aVG5M4c_IC5k-rR_gi84NYj1DRmeDLzVF754SvAwLlgZP9_l3boQxYHTIyPJ5341IOZBOaU8cQE8/s1600/1398805_20131005123334(jaka92).jpg
Pemerintah Indonesia dan Turki sepakat menjalin kerja sama dalam pembuatan tank. Kesepakatan itu diikat dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani di sela kegiatan Pameran Industri Pertahanan Internasional (IDEF) ke-11 di Istanbul, Turki, pada Mei lalu.

Salah satu poin yang tertuang di dalam MoU itu adalah pemerintah kedua negara akan mendesain satu prototipe tank terlebih dahulu. “Saat ini proses pengerjaan baru sebatas pembuatan protipe tank. Setelah desain tank selesai dibuat, maka rencananya akan diproduksi massal dan digunakan bagi milter di kedua negara,” ujar Duta Besar Turki untuk Indonesia Zekeriya Akcam kepada VIVAnews, 29 Oktober 2013, di Hotel Shangri-La dalam perayaan Hari Nasional ke-90 Turki.

Zekeriya berharap prototipe tank akan selesai dibuat setelah Turki menggelar pemilu tahun depan. “Desain tank akan diungkap ke publik setelah Turki selesai menggelar pemilu pada Juli 2014. Kebetulan Indonesia dan Turki sama-sama akan menggelar Pemilu Presiden di waktu yang sama,” kata Zekeriya.

Pembuatan tank ini rencananya akan melibatkan dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI, yakni PT Pindad dan PT LEN. Salah satu perusahaan asal Turki, ASELSAN, merupakan mitra dari PT LEN yang sudah memiliki pengalaman memproduksi peralatan di bidang pertahanan dan keamanan. Sementara dari pihak Turki, proyek ini akan ditangani oleh FNSS Defense System.

Tanam investasi

Zekeriya juga mengatakan, dua perusahaan besar Turki akan menanamkan investasi di Indonesia. Perusahaan itu bergerak di bidang pengeboran dan pertambangan, serta produksi mesin pendingin dan mesin cuci.

“Mereka telah melakukan survei selama hampir empat tahun untuk menentukan tempat investasi. Untuk perusahaan pertambangan dan pengeboran dari Turki, mereka baru memperoleh izin di Agustus lalu,” kata Zekeriya. Perusahaan itu akan mulai melakukan pengeboran di Pulau Sumatera.

Sementara untuk perusahaan produsen mesin pendingin dan mesin cuci dari Turki, sudah siap memproduksi produknya karena telah menemukan mitra lokal.

Namun, ujar Zekeriya, lebih banyak perusahaan Turki yang lebih memilih untuk melakukan hubungan dagang di Indonesia ketimbang berinvestasi. Penyebabnya adalah nilai tukar mata uang yang tak stabil dan birokrasi yang rumit. “Terlalu banyak perjuangan dan birokrasi untuk bisa memperoleh izin usaha di Indonesia,” kata dia.

Dalam neraca perdagangan, Indonesia masih mengalami defisit dari Turki pada tahun 2012. Zekeriya mengatakan nilai perdagangan dari Indonesia ke Turki mencapai US$1,5 miliar, sedangkan dari Turki ke Indonesia mencapai US$250 miliar.


  Vivanews  

Prototype Tank Medium SBS Pindad

PT Pindad (Persero) siap meluncurkan tank asli buatan Indonesia yang pertama ke publik. Tank ini sekarang masuk ke fase pematangan model prototype atau purwarupa tank tipe medium di pusat pengembangan.

Dari gambar yang diteroleh detikFinance, tampilan body terlihat mirip panser Anoa 6X6. Kepala Departemen Humas dan Hukum PT Pindad Tuning Rudiyanti menjelaskan medium tank karya Pindad ini memang masih perlu penyempurnaan.

"Nah, kalau tank itu kita mulai dari kelas medium. Sekarang untuk tank baru masuk di litbang. Secara fisik iya sudah jadi tapi kalau teknis baru setengahnya. Ini bisa dilihat di Pindad. Ini benar-benar karya Pindad," ucap Tuning kepada detikFinance Rabu (30/10/2013).

Tank ini merupakan loncatan dari pengembangan panser Anoa dan kendaraan taktis Komodo. Ketika prototype tank bernama SBS ini tuntas, produsen senjata dan kendaraan tempur pelat merah ini siap melanjutkan ke proses sertifikasi di Kementerian Pertahanan.


"Nanti kalau sudah jadi prototype diajukan sertifikasi baru diproduksi," jelasnya.

Tank produksi bangsa Indonesia ini, bisa disejajarkan dengan tank kelas medium seperti Marder. Selain mengembangkan tank sendiri, Pindad juga ikut membantu Kementerian Pertahanan Indonesia bersama Turki mengembangkan medium tank.


  detik  

Dittopad Melaksanakan Pemotretan Udara Daerah Latihan Kodam I / Bukit Barisan

Rencana pemotretan daerah latihan Kodam I/BB Dolok Silau Simalungun Sumatera Utara berawal dari Perintah Pangdam I/BB dan Asops Kasad kepada Katopdam I/BB untuk melaksanakan pemotretan pada bulan Desember 2012. Merespon perintah tersebut Katopdam langsung berkoordinasi dengan Dittopad untuk membuat perencanaan kegiatan pemotretan. Karena keterbatasan SDM dan peralatan yang dimiliki Topdam I/BB maka kegiatan pemotretan dilaksanakan oleh Dittopad dibantu Topdam I/BB.

Dittopad sebagai salah satu fungsi teknis Angkatan Darat yang memiliki tugas pokok menyediakan dan menyajikan informasi Topografi berupaya terus untuk mendukung kegiatan pemotretan di Daerah Latihan Kodam I/BB. Dalam rangka mencari solusi untuk pemotretan di daerah latihan Kodam I/BB, Dittopad telah melakukan beberapa kali uji coba pemotretan menggunakan UAV bekerjasama dengan Lapan. Kerjasama ini dilaksanakan dengan Format, Lapan menangani pesawat UAV dan Dittopad menangani proses pemetaannya. Akhirnya, setelah melakukan beberapa kali percobaan pemotretan, Dittopad bersama Lapan berhasil melaksanakan pemotretan daerah latihan Kodam I/BB yang dilaksanakan pada tanggal 10 s.d. 17 Oktober 2013.

Secara umum hasil dari kegiatan pemotretan ini adalah :

a. Pemotretan daerah latihan Kodam I/BB Dolok Silau dapat dilaksanakan dengan baik. Pesawat UAV LSU-02 dapat memotret sasaran sesuai perencanaan. Pesawat tersebut dapat terbang tepat diatas rencana jalur terbang yang direncanakan dengan ketinggian dan kecepatan pesawat sesuai dengan yang diinginkan.

b. Daerah Latihan Dolok Silau memiliki luas kurang lebih 9000 Ha terdiri daerah dataran rendah dengan ketinggian 200 s.d. 500 m dan daerah Gunung dengan ketinggian antara 500 s.d. 1000 m. Pemotretan hanya dapat dilaksanakan di daerah dataran rendah dengan ketinggian 200-500 m dengan luas daerah yang berhasil difoto + 7000 Ha. Untuk daerah dengan ketinggian diatas 500 m selalu tertutup awan sehingga belum dapat difoto. Foto yang dihasilkan sebanyak 2500 Foto dengan sidelap 30% dan overlap 80 %. Tim Fotogrametri Dittopad telah berhasil membuat mosaik foto tersebut menggunakan software Agisoft.

c. Pesawat UAV efektif untuk memetakan daerah dengan luas dibawah 20,000 Ha (dua puluh ribu hektar) karena untuk daerah yang terlalu luas masih terkendala kemampuan pesawat. Pemotretan udara menggunakan UAV memiliki Keunggulan antara lain :

  1. Biaya yang diperlukan relatif murah.
  2. Pelaksanaan relatif lebih aman dan resiko rendah.
  3. Birokrasi untuk penyelenggaraannya relatif simple.
  4. Waktu yang dibutuhkan relatif lebih singkat/cepat.
  5. Memiliki Fleksibilitas baik, karena ukurannya kecil dan penanganan nya mudah.
  6. Hasil cukup teliti.

d. Namun disamping keunggulan, pesawat UAV juga memiliki keterbatasan antara lain :
  1. Bergantung adanya landasan pacu yang memenuhi syarat.
  2. Bergantung ketersediaan BBM nya Pertamak Plus/95.
  3. Kemampuan Monitoring manuver pesawat terbatas.

  TNI AD  

Nanoteknologi farmasi Indonesia makin berkembang

Dekan Universitas Pancasila
Jakarta - Dekan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila (FFUP) Wahono Sumaryono mengatakan perkembangan nanoteknologi farmasi di Indonesia akhir-akhir ini makin maju.

"Dalam lima tahun terakhir ini perkembangan nanoteknologi farmasi di Indonesia cukup maju," kata Profesor Doktor Wahono Sumaryono, Apt. di sela acara seminar internasional yang bertajuk "Biopolymeric Micro/nanoparticles for Drug and Protein Delivery" di Aula Fakultas Farmasi Universitas Pancasila Jakarta, Sabtu.

Seminar tersebut menampilkan pembicara dari luar negeri dan dalam negeri seperti Prof. Garnpimol C. Ritthidej (Chulalangkorn University, Thailand), Jing Zhao (National University Singapore), Dr. Mike Ahern (School of Science, Institute of Technology Tallaght, Dublin Irlandia).

Pembicara dari dalam negeri, antara lain Prof. Habil H.J. Freisleben (Faklutas Farmasi Universitas Indonesia), Dr. Heni Rachmawati (ITB), dan Dr. Deni Rahmat (Universitas Pancasila).

Wahono mengatakan bahwa nanoteknologi farmasi merupakan ilmu-ilmu farmasi yang menggabungkan teknologi farmasi, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, dan lainnya.

Dengan adanya nanoteknologi farmasi, kata dia, tentunya memberikan peluang baru dalam sistem penghantaran obat dan strategi dalam penargetan obat sehingga lebih tepat sasaran.

"Akan tetapi, kami juga perlu mengetahui efek samping seperti apa yang ditimbulkan," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, nanoteknologi farmasi dapat mengatasi permasalahan yang timbul dalam formulasi obat, protein, peptida, dan asam nukleat yang menghasilkan bioavailabilitas dan efek klinis yang rendah.

Dalam konferensi tingkat internasional, kata dia, tidak hanya membahas perkembangan terakhir dalam nanoteknologi farmasi, tetapi juga pengembangan penemuan-penemuan dan teknologi baru untuk perbaikan efek klinis obat.

"Negara-negara di Eropa Barat, Jepang, Singapura, bahkan Thailand perkembangan nanoteknologi sudah maju. Mereka sudah lebih dari sepuluh tahun lalu mengembangkannya," katanya.

Menurut dia dengan adanya nanoteknolgi farmasi tentunya akan menguak revolusi dunia di bidang farmasi tersebut karena nanoteknologi mampu mengurangi bahan baku obat sehingga penggunaannya lebih sedikit daripada tidak menggunakan nanoteknologi.

"Biaya bahan baku obat lebih murah dan sedikit, tetapi memang dibutuhkan investasi besar dalam mengembangkan nanoteknologi," katanya.

Ia mengatakan bahwa saat ini perkembangan nanoteknologi bukan hanya di farmasi, melainkan juga di bidang lainnya seperti kosmetik.

"Banyak industri kosmetik yang memanfaatkan keungggulan nanteknologi tersebut," ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Pancasila Edie Toet Hendratno memandang perlu peran negara dalam mengembangkan nanoteknologi farmasi karena biaya yang dikeluarkan untuk investasi di bidang tersebut relatif sangat besar.

"Untuk pembuatan laboratorium nanoteknologi dibutuhkan dana sekitar Rp1 triliun sampai Rp2 triliun," katanya.

Menurut dia, Indonesia harus mengikuti perkembangan nanoteknologi farmasi karena saat ini negara-negara lain sudah mengembangkannya jauh lebih maju.

"Kalau kita tidak mengembangkan, akan jauh tertinggal dengan negara-negara lain," ujarnya.

Dikatakannya Pemerintah bisa menugasi BUMN yang berkaitan dengan hal tersebut seperti Kimia Farma ataupun Biofarma untuk mengembangkan nanoteknologi farmasi.

"BUMN bidang farmasi ini bisa menjadi ujung tombak pengembangan nanoteknologi farmasi di Indonesia," katanya.(F006/D007)


  Antara  

PLTN 100 Megawatt Dibangun di Bangka Belitung

Kementrian Riset dan Teknologi telah selesai melakukan penelitian terkait tapak untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan kapasistas 100 megawatt di kepulauan Bangka-Belitung.

Dengan selesainya uji tapak pembangunan PLTN Bangka–Belitung, PLTN dengan kapasitas 100 MW siap dibangun. ”Hasil uji tapak PLTN 100 MW telah diserahkan ke Kementerian Energi Sumber Daya Mineral," ujar Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, Sabtu (26/10) usai membuka seminar di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Menristek mengungkapkan, berdasarkan hasil uji tapak, secara teknis pembangunan PLTN di Bangka-Belitung cukup layak untuk dilakukan, dan pemerintah saat ini terus berupaya mensosialisasikan pembangunan PLTN bersama manfaat yang akan diperoleh bagi masyarakat.

Di sisi lain, Gusti Hatta mengaku, sebelumnya hampir 65 persen warga mendukung pembangunan PLTN, namun karena adanya kejadian PLTN Fukushima Jepang, ternyata berdampak pada menurunnya dukungan warga masyarakat terhadap rencana pendirian PLTN. ”Ini merupakan kendala non teknis,” ujar Menristek Gusti Hatta.

Pemerintah sendiri terus mensosialisasikan mengenai manfaat pembangunan PLTN bagi masyarakat. Melalui uji tapak tersebut pihak Ristek menjamin pembangunan PLTN nantinya dan ramah lingkungan, tandas Gusti Hatta. Kementerian Ristek sendiri rutin melakukan melakukan pembicaraan dengan Dewan Energi Nasional (DEN), dengan harapan pembangunan PLTN dapat segera terlaksana.


  Jurnas 

Tindaklanjuti Kerja Sama Pertahanan, Komisi I Berangkat ke China

KOMISI I DPR mengunjungi China untuk menindaklanjuti kerja sama di bidang pertahanan. Salah satu kerja sama yang sudah dirintis adalah terkait produksi bersama alutsista berupa roket.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiIyl-wq3nP_zareGtmSIgGaV0nhJ5vRdK_sy50UbcoamSQVN4kNo-iljKfksDcw5G1lfC229W3wADrxVtbpdpYhfgKQm8uyFULIJBMQn0mHkeM3SkDD0OIw8v_hM-G0-2tBaDs-oiPA/s400/C705_ClubChina.jpg
Rudal C705
Senayan - Setelah masa sidang I tahun 2013-2014 ditutup pekan lalu, DPR memasuki masa reses. Komisi I DPR memanfaatkan masa reses kali ini dengan melakukan kunjungan kerja ke China.

"Saya langsung memimpin delegasi ke China. Berangkat Sabtu (26/10) malam dan tiba kembali pada 1 November mendatang," ujar Mahfudz Siddiq kepada JurnalParlemen, sesaat sebelum meninggalkan Tanah Air.


Selama sepekan, Mahfudz dan 10 anggota Komisi Luar Negeri akan berada di China untuk menindaklanjuti kerja sama di bidang pertahanan dan hasil kunjungan Presiden China ke Indonesia awal Oktober lalu. Kunjungan ini juga dimanfaatkan untuk mengevaluasi beberapa kesepakatan yang sudah diteken tapi belum direalisasikan.


"Kita akan cari tahu, apa penyebab dan kendalanya kenapa belum terealisasi beberapa kerja sama bidang pertahanan dengan China yang sudah tercapai selama ini. Itu yang kita bicarakan," ujarnya.


Delegasi Indonesia juga berencana mengunjungi pabrik roket di Negeri Tirai Bambu itu. Ini merupakan upaya pengawasan DPR terhadap kerja sama Indonesia dengan China terkait produksi bersama alutsista berupa roket.


"Kita perlu melihat secara langsung kondisi perusahaan roket China itu seperti apa, sistem dan teknologi yang dipergunakan, serta manajemen pengelolaan dan kapasistas produksinya. Kita harapkan ada alih teknologi agar Indonesia juga bisa memproduksi dan mengembangkan hal serupa di dalam negeri sendiri," jelasnya.


Penguatan hubungan bilateral RI-China, terutama di bidang pertahanan, dimaksudkan untuk membangun kekuatan kawasan. China adalah aktor utama di kawasan Asia.
 

  Parlemen  

Datangi Kantor Djokir, Delegasi Swiss Kaget RI Sudah Punya Green Building

http://images.detik.com/content/2013/10/26/4/190814_konstruksi6depan.jpgJakarta - Delegasi Menteri Perekonomian Swiss menyambangi kantor Kementerian Pekerjaan Umum di Blok M, Jakarta Selatan. Di kantor Menteri PU Djoko Kirmanto (Djokir) ini, delegasi pemerintahan Swiss belajar dan berbagi tentang pengembangan konsep green bulding atau bangun hijau selama 1,5 jam.

Gedung Kementerian PU merupakan pioner green building di Indonesia. Bahkan delegasi Swiss kaget karena Indonesia telah memulai pengembangan green building.

"Ke sini untuk melihat pelaksanaan dari green building. Kementerian PU gedungnya termasuk pioner di green building. Mereka ingin liat. Mereka surprise Indonesia sudah menuju green building," Dirjen Cipta Karya Kementerian PU Imam Ernawi usai acara pertemuan dengan delegasi Swiss di Kementerian PU Jakarta, Sabtu (26/10/2013).

Delegasi pemerintah Swiss yang diwakili Kepada Departemen Federal atau Menteri Bidang Ekonomi, Pendidikan dan Riset, Johann N. Schneider-Ammann dan Duta Besar Swiss untuk Indonesia Heinz Walker-Nederkoorn.

Diakui Imam, pemerintahan Swiss sedang gencar mengembangkan green building di negaranya. Ke depan dimungkinkan kerjasama untuk pengembangan dan penyusunan konsep green building antara Indonesia dan Swiss.

"Mereka sangat interest dengan pelaksanaan green building. Tidak hanya di Indonesia tapi di negaranya sudah cukup maju. Tadi pertama pertemuan. Ingin tahu posisi Indonesia dalam green building dan ke depan kita ingin kerjasama. Mereka meresponsnya juga begitu," sebutnya.

Diakuinya Kementerian PU juga akan menggandeng pemerintah daerah untuk pengaturan dan penerapan green building di kota-kota Indonesia. Hal ini nantinya diatur dalam peraturan daerah. Termasuk juga stimulus bagi pengembangan green building di daerah.

"Memang investasi awal untuk green building lebih mahal dibandingkan yang reguler itu 5-6%. Di DKI kan ada mekanisme memenuhi kriteria itu. Semacama jalur khusus untuk mereka," katanya.(feb/ang)


  detik  

Indonesia-Swiss kerja sama program bangunan hijau

Jakarta - Republik Indonesia bekerja sama dengan Swiss dalam memperluas inisiatif program bangunan hijau ke berbagai kota di Indonesia guna mengatasi peningkatan dampak perubahan iklim dari emisi gas rumah kaca.

"Kunjungan rombongan Swiss untuk bertemu membahas untuk membantu Indonesia mengenai program bangunan hijau nasional dan menghentikan gas rumah kaca," kata Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Imam Ernawi dalam pertemuan dengan delegasi Swiss di Jakarta, Sabtu.

Ia mengemukakan bahwa pembahasan tersebut juga untuk memperluas inisiatif program bangunan hijau untuk kota-kota di seluruh Indonesia.

Upaya yang dilakukan, ujar dia, bertujuan mengurangi emisi karbon dan konsumsi sekaligus melakukan penghematan biaya.

Sebagaimana diketahui, kajian Dewan Nasional Indonesia tentang perubahan iklim menyebutkan bahwa sektor bangunan di Indonesia menyumbang 27 persen dari total penggunaan energi.

"Penggunaan ini diperkirakan akan meningkat hingga 40 persen pada tahun 2030 sehingga penting bagi Pemerintah untuk mendorong transisi ke bangunan hijau," kata Dirjen Cipta Karya.

Sementara itu, Duta Besar Swiss untuk RI Heinz Walker mengatakan bahwa pihaknya sangat menghargai komitmen sangat menghargai komitmen Kementerian Pekerjaan Umum RI untuk mempromosikan dan mengembangkan solusi bangunan berkelanjutan untuk membuka jalan menuju ekonomi hijau.

Sebelumnya, pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum juga telah bekerja sama dengan Swedia membahas pembangunan kota hijau dengan prinsip berkelanjutan sebagaimana telah dilakukan di Swedia untuk dapat diterapkan di Indonesia.

"Kerja sama dengan Swedia memberikan pengetahuan tentang pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan dan lebih efisien," kata Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak di Jakarta, Jumat (25/10).

Untuk itu, Badan Pembinaan Konstruksi telah mengirimkan sekitar 10 persen sumber daya manusia guna mengikuti pelatihan konstruksi teknologi berkelanjutan dan studi pengembangan kapasitas di Swedia.

Selain itu, Direktorat Jenderal Bina Marga dan Direktorat Jenderal Cipta Karya juga telah melaksanakan pembangunan infrastruktur dengan konsep ramah lingkungan.

Penerapan hal tersebut dilakukan, antara lain untuk konstruksi jalan dengan memakai material lokal dan daur ulang serta pembangunan bangunan hijau.

Sementara Direktur Jenderal Penataan Ruang Basoeki Hadimoeljono mengemukakan bahwa kerja sama RI-Swedia dalam program pelatihan manajemen masyarakat perkotaan diwujudkan dalam pelaksanaannya di sejumlah kota seperti di Palu (Sulawesi Tengah) dan Probolinggo (Jawa Timur).(M040/D007)


  Antara  

Turbin Uap Karya Pertama Anak Bangsa Dipesan Untuk Proyek PT Sawit Putra Riau

http://images.detik.com/content/2013/10/26/1034/142135_turbinpln.jpgBandung - Perusahaan produsen turbin PT Taka Turbotechnology Indonesia telah mampu menghasilkan produk turbin uap (steam turbine) pertama di Indonesia. Satu unit steam turbine diproduksi untuk memenuhi pesanan PT Zug Industry Indonesia.

Turbin uap pesanan PT Zug Industry Indonesia tersebut berkapasitas 4 MW yang akan dipasang di proyek PT Sawit Putra Riau, dan diselesaikan dalam waktu kurang lebih 1 tahun.

"Kami kerjakan 18 hari lebih awal dari waktu yang dijanjikan yaitu 1 tahun," kata Chairman Taka Group Denny Andri saat ditemui di sela acara Peluncuran Turb in Uap Pertama PT Taka Turbotechnology Group di PT Taka, Jalan Soekarno Hatta, Bandung, Sabtu (26/10/2013).

PT Taka Turbotechnology Indonesia menargetkan dalam 5 tahun ke depan bisa membuat 20 unit turbin uap dengan kapasitas sampai 35 MW dalam 1 tahun, dengan tingkat komponen dalam negeri sebesar 50%. Sedangkan saat ini, dia baru bisa memproduksi 1 unit turbin uap berkapasitas 15 MW dengan tingkat komponen dalam negeri sebesar 30%, karena bahan baku utama yaitu baja masih diimpor.

"Kami harapkan ke depannya ada industri baja yang memenuhi bahan baku kita. Kalau ada, TKDN kita bisa 100%," tambahnya.

Dalam memproduksi turbin uap, PT Taka Turbotechnology bekerja sama dengan perusahaan China yaitu Xi'an Shaan Gu Steam Turbine. Kedua perusahaan tersebut melakukan joint venture atau kerjasama dengan nilai investasi sebesar US$ 1 juta selama 5 tahun dengan komposisi 30% untuk Xi'ann Shaan Gu dan 70% dari Taka Indonesia.

"Investasi ini difokuskan pada penambahan permesinan seperti high speed balancing, pengembangan SDM, transfer technology dan research and development, dan lainnya," papar Denny.

Sampai hari ini kami membuar 1 steam turbin 4 MW dengan tkdn 30%. Tahun 2014-2017 kami masuk size yang lebih besar hingga 25 mw tkdn 40%. 2018. Tkdn lebih dari 50% dan ukuran lebih dari 35 MW.

Selain Indonesia, ke depannya PT Taka Turbotechnology pun akan membidik pasar internasional. Turbin uap bisa dipakai untuk proyek perkebunan, pertanian, pembangkit listrik, dan kebutuhan industri lainnya.(zul/ang)


  detik