Hambatan 4G LTE di Indonesia

Handphone yang mendukung perangkat LTE 4GJakarta Saat ini sudah semakin banyak ponsel yang mengadopsi teknologi 4G LTE, teknologi yang diklaim bisa mencapai kecepatan unduh 100 Mbps dengan latensi sangat rendah. Beberapa penyedia layanan telekomunikasi di Indonesia pun sudah siap menyongsongnya, antara lain Telkomsel dan Smartfren.

Tapi, ternyata investasi di teknologi ini punya kendala akibat putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan permintaan uji materi Peraturan Menteri Kominfo no. 22/2011. Uji materi tersebut diajukan Asosiasi Televisi Jaringan Indonesia (ATVJI). Akibatnya, migrasi TV analog ke TV digital tertunda sehingga frekuensi 700 MHz bisa dikosongkan.

"Seharusnya jika lancar, sesuai target 2016 itu Indonesia sudah bisa ASO, Analog Switch Off. Dengan begitu frekuensi 700 MHz bisa dipakai untuk LTE," kata Direktur Eksekutif Masyarakat Telematika Indonesia, Eddy Thoyib, Selasa (10/12).

Berbicara di World Trade Center, Jakarta Pusat, Eddy menjelaskan bahwa saat ini frekuensi 700 MHz masih digunakan oleh TV analog. Sejatinya sudah sejak beberapa tahun lalu Kemkominfo sudah gencar mengajak masyarakat berpindah dari TV analog ke TV digital. Namun sejauh ini belum sukses, tambah lagi AJTVI sukses meyakinkan MA dengan argumen yang mereka ajukan.

Dijelaskan oleh Head of Mobile Broadband Solutions Nokia Solutions and Network untuk Asia Pasifik, Nils Kleemann, bagi operator Indonesia saat ini ada dua pilihan frekuensi LTE: 700 MHz dan 1.800 MHz. Frekuensi yang lebih rendah lebih baik karena jangkauan lebih luas, bisa menembus tembok dan area bawah tanah bangunan.

Oleh karena itulah frekuensi 700 MHz disebut oleh banyak operator sebagai frekuensi emas. Jelas karena biaya investasi yang dikeluarkan lebih kecil.

Jika ingin mendapat frekuensi emas itu, kemungkinan besar keinginan operator baru terwujud pada 2017. Tahun itulah target Kemkominfo untuk sepenuhnya bisa menggeser TV analog ke TV digital sehingga frekuensi 700 MHz bisa dipakai untuk LTE.

"Tapi kalau terlalu telat kita bisa tertinggal jauh. Sekarang saja Jepang sudah bersiap untuk ke 5G. Ada kemungkinan 2015 nanti perusahaan seperti Huawei sudah menyiapkan 5G," Eddy menerangkan.

Ada pilihan untuk loncat langsung dari 3G ke 5G seperti yang dilakukan Jepang. Hanya saja tetap ada resiko untuk hal itu.

"Kalau ada teknologi baru, selalu ada dua hal yang diperhatikan. Pertama, apakah techno proven? Kita lihat dulu apa teknologinya sudah terbukti sukses. Kedua, secara ekonomi apakah menguntungkan?" tanya Eddy.

"Jika memutuskan tidak pakai LTE, lalu melihat seperti apa 5G bisa makan waktu lama. Sementara yang lain sudah LTE dan 5G, sementara kita masih 3G."

Tak cuma resiko di sisi teknologi, ada pula resiko di sisi pemasaran.

"Bisa juga ada marketing gimmick dari pesaing. Eh kita pakai 4G lho, mereka tidak," tegas Eddy.

Penulis: /YUD


0 komentar:

Posting Komentar