BPPT: 70 Persen Konsumsi Batubara 2030 untuk Listrik

Tambang batubara Bukit Asam Jakarta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memproyeksikan pangsa konsumsi batubara untuk pembangkit listrik akan meningkat hingga 70 persen di 2030.

"Saat ini untuk konsumsi pembangkit sekitar 57 persen. Angka ini akan naik di 2030, pangsanya jadi 70 persen untuk pembangkit dan sebagian industri," kata Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Industri BPPT, Adiaso, dalam seminar peluncuran Outlook Energi 2013 di Jakarta, Senin.

Saat ini produksi batubara mencapai 350 juta ton, sebanyak 77 persen diekspor dan 23 persen untuk konsumsi dalam negeri.

Dengan efektifnya kebijakan Percepatan Nilai Tambah Mineral (PNTM) pada 2014 sesuai amanat Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009, maka permintaan batubara dalam negeri akan meningkat dan ekspor diprediksi akan mencapai 54 persen.

"Dan permintaan tertinggi untuk konsumsi pembangkit listrik," ujar dia.

Ia mengatakan kebutuhan batubara dalam negeri hingga 2030 mencapai 11,2 miliar ton. Berdasarkan catatan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) cadangan batubara mencapai 28 miliar ton.

"Batubara ke depan akan digunakan untuk pembangkit listrik, industri, dan sebagian kecil untuk pencairan batubara di 2025. Konsumsi enam juta ton per tahun untuk bahan bakar sintetis," ujar dia.

Sementara itu, Deputi Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material BPPT Unggul Priyanto mengatakan pasokan batubara untuk dalam negeri kecil selama ini tapi kebutuhan akan semakin meningkat.

Saat PT PLN (Persero) akan mulai membangun pembangkit listrik, menurut dia, baru akan disadari ternyata dalam negeri juga membutuhkan batubara.

"Cadangan batubara Indonesia hanya lima persen dari cadangan dunia. Tapi Indonesia jadi pengekspor kedua terbesar di dunia," katanya.

Permintaan batubara akan semakin meningkat karena saat ini menjadi energi termurah untuk pembangkit listrik. "PLN kan pasti coba hemat ongkos karena pakai batubara," katanya.

Menurut dia, perlu ada kebijakan baru terkait tarif listrik sehingga pihak swasta mau memproduksi listrik. "Kalau tidak subsidi listrik akan terus tinggi, meski pada kenyataannya harga listrik Indonesia termasuk murah dibanding negara lain di dunia," ujar dia.(ant/hrb)


  Investor  

0 komentar:

Posting Komentar