Pakar Teknologi Membran Raih Habibie Technology Award

Gede Wenten (kiri) bersama Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Marzan Aziz Iskandar. | Yunanto Wiji Utomo

JAKARTA — Pakar teknologi membran dari Institut Teknologi Bandung (ITB), I Gede Wenten, meraih BJ Habibie Technology Awards, penghargaan yang diberikan kepada ilmuwan Indonesia yang tak cuma berinovasi, tetapi juga mampu menggerakan industri lewat inovasinya.

Wenten, demikian biasa disapa, meraih penghargaan pada Rabu (21/8/2013). Penghargaan diberikan bertepatan dengan ulang tahun Badan pengkajian dan penerapan teknologi (BPPT). Penyelenggaraan BJ Habibie Technology Awards kali ini merupakan yang keenam.

Peran Wenten sendiri adalah menciptakan membran selektif yang bisa diaplikasikan untuk berbagai macam kebutuhan, seperti penyaringan gas, penyaringan air minum dengan berbagai sumber air, dan memperoleh minyak murni.

Teknologi membran hasil inovasi Wenten telah diaplikasikan dalam beragam alat yang sudah diproduksi massal. Salah satu alatnya adalah pompa tangan bernama IGW Emergency Pump yang mampu memisahkan air dari kekeruhan, bakteri, sedimen, alga, dan spora.

Pompa dengan teknologi inovasi Wenten cukup praktis dan bisa digunakan dalam kondisi apa pun. Membran penyaring pada pompa itu sangat halus. Wenten merupakan satu-satunya ilmuwan di Asia Tenggara yang mengembangkan teknologi ini.

Membran inovasi Wenten saat ini juga diaplikasikan dalam pemurnian minyak kelapa sawit, virgin coconut oil, serta penyaringan air bebas pirogen dalam dunia medis. Membran tersebut juga berpotensi untuk mendukung cuci darah.

Presiden ketiga Republik Indonesia, BJ Habibie, yang turut hadir dalam acara penghargaan mengatakan bahwa Wenten adalah sosok ilmuwan yang punya peran besar bagi Indonesia. Indonesia perlu lebih banyak orang seperti Wenten agar bisa lebih maju.

Wenten mengatakan, inovasi yang mampu menjawab permasalahan bangsa dan dunia secara global dibutuhkan. Kunci dalam berinovasi adalah penguasaan dasar-dasar keilmuan dan kemampuan menangkap potensinya untuk diaplikasikan.

"Berinovasi tidak sekadar euforia. Orang lain berinovasi lalu kita juga ikut berinovasi. Untuk bisa membuat inovasi kita harus menguasai dasarnya dan melihat kebutuhan," kata Wenten. Wenten saat ini terdaftar sebagai pemilik 15 hak paten sejak tahun 1993-2013.


  Kompas 

0 komentar:

Posting Komentar