Indonesia terus diserbu barang impor

JAKARTA Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) melihat, birokrasi masih menjadi penghambat utama dalam mengembangkan usaha. Di sisi lain, Indonesia terus diserbu barang-barang impor.

Ketua Kompartemen Hipmi Romi Lesmana menjelaskan, serbuan barang impor ke Indonesia tidak lepas dari perdagangan bebas seperti ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA).

Dengan perjanjian ini, barang impor China lebih mudah masuk ke Indonesia. Sedangkan pengusaha dalam negeri sulit melakukan ekspor lantaran terkendala dengan birokrasi berbelit.

"Kendala kita itu hubungannya banyak seperti material bahan baku kita harus impor. Dan juga segi birokrasi kita tahu sendiri surat izin susah sekali. Mau bikin badan usaha sendiri biaya besar. Akses permodalan juga masih susah," jelas Romi di Kantornya, Rabu (13/2).

Romi menjelaskan, untuk urusan birokrasi, saat ini masih ada pungutan liar yang menggerogoti pengusaha. Selain birokrasi, masalah lainnya adalah mengenai infrastruktur yang tak kunjung selesai.

"Memang semuanya ini diurut urut berhubungan dengan fasilitas, transportasi kita. Harus ada perubahan dan lain lain. Ini menjadi tantangan buat kita karena penduduk kita juga besar. Penduduk kita jangan sampai hanya menjadi konsumen produk impor," jelasnya.

Sesungguhnya, kata dia, produk asal Indonesia lebih bagus kualitasnya ketimbang produk China. Namun karena kendala tersebut barang dari Indonesia menjadi sulit untuk diekspor.

"China murah oke tapi kualitas kita punya design model jauh lebih bagus. Sebenarnya kita punya peluang membentuk itu. Itu memang tugas kami pengusaha manfaatkan jangan sampai ini menjadi ancaman tapi tantangan buat kita berbuat lebih baik," tegasnya. (mdk/noe)


 Merdeka 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgW_7Q_gMU8bWByPD8aRsTMrWQnA3C6m_cCcvcnflRenf66mPLH6EWCZhHh5b_QPi61GtYm3vlEiGg86qHAJIxpQMtGRwZ9W5G2ESw8QZXJubLJ_RU9z2t-AvqnBEJR3mwVMJ_hTXrI69s/s35/cinta-indonesia.jpg

0 komentar:

Posting Komentar