2017, Jaringan Listrik Sumatra-Jawa Terhubung

 PLN membangun interkoneksi listrik Sumatera-Jawa Rp 20 triliun.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2011/11/01/129693_pelantikan-dirut-pln_209_157.jpgDirektur konstruksi PLN, Nasri Sebayang (tengah).

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menargetkan pembangunan proyek interkoneksi listrik Sumatera-Jawa dapat dimulai pada triwulan pertama 2013 dan selesai pada 2017 mendatang.

"Semester satu ini kita akan melakukan lelang tender proyek interkoneksi transmisi ini," kata Direktur Kosntruksi PLN, Nasri Sebayang, saat ditemui di Kantor PLN Pusat, Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa 12 Februari 2013.

Nasri menjelaskan, sistem kelistrikan Jawa-Bali dan Sumatera yang sekarang masih terpisah, direncanakan akan saling terhubung dalam satu jaringan interkoneksi.

PLN menargetkan, ada listrik sebesar 3.000 MW yang tersalur dari sejumlah pembangkit listrik dari Jawa-Bali ke Sumatera atau sebaliknya untuk saling memasok listrik. "Rencananya Desember 2017, sudah beroperasi," katanya.

Sementara itu, nilai investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera-Jawa ini diperkirakan mencapai Rp20 triliun dan sumber dana pembangunan proyek sebagian besar berasal dari Loan JICA (Japan International Cooperation Agency) dan dana pendamping dari anggaran PLN.

 Penyebab proyek pembangkit listrik molor

Sementara itu, Nasri menjelaskan, berbagai kendala menghambat proyek percepatan pembangkit listrik tahap pertama (FTP-I) 10.000 Megawatt sehingga menjadi penyelesaiannya menjadi molor.

Hambatan pertama adalah keterlambatan pendanaan, baik dari APBN maupun sindikasi perbankan seperti pembukaan Letter of Credit (L/C) yang mengakibatkan proses pembayaran terkendala.

Kendala berikutnya adalah pembebasan lahan yang sulit untuk pembangkit listrik dan transmisi. Ia mengakui, PLN terlalu optimistis untuk membangun pembangkit listrik sebesar 300-600 MW selama 30-36 bulan. Padahal kenyataannya, pembangkit listrik itu baru selesai dibangun dalam waktu 40-50 bulan.

Kendala ketiga adalah panjangnya proses perizinan pembangunan pembangkit listrik. Sedangkan kendala terakhir, yakni lokasi pembangkit listrik yang kurang tepat, sehingga terpaksa digeser dan membutuhkan waktu lagi untuk membebaskan lahan.(asp)


  © VIVA.co.id  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgW_7Q_gMU8bWByPD8aRsTMrWQnA3C6m_cCcvcnflRenf66mPLH6EWCZhHh5b_QPi61GtYm3vlEiGg86qHAJIxpQMtGRwZ9W5G2ESw8QZXJubLJ_RU9z2t-AvqnBEJR3mwVMJ_hTXrI69s/s35/cinta-indonesia.jpg

0 komentar:

Posting Komentar